Tak aneh memang bila ku
katakana kalau BBM adalah tuhan baru di negaraku, karena hanya sekedar minyak
saja rakyatku bangsaku menangis, menjerit, dan mati. Entah kenapa hal ini bisa
terjadi, padahal yang aku tau dahulu kala bangsaku makan, minum, bahkan bepergian
kelain tempat seberapa jauhpun mereka tidak terhalangi oleh yang namanya minyak, mereka tetap hidup dan tetap
merasakan indahnya dunia ini, apakah benar Negara ini sudah menjadi suatu
perusaan yang bila mana penjualan barang yang di produksi oleh perusahaan itu
meningkat maka perusahaan itu menaikan harga barang tersebut, kalau begitu
ngapain kita sebut Indonesia ini sebuah Negara, kenapa kita tidak ganti saja
namanya menjadi perusahaan Indonesia, wajar dong kalau dibilang perusahaan, toh
hanya perusahaan lah yang mengenal kata devisit dan surflus.
Kenaikan harga BBM memang
bukan pertama kalinya di negaraku, bahkan di masa pemerintahan SBY ini sudah
hamper tiga kali menaikan harga BBM, dan disaat isu kenaikan harga BBM ini
sudah terdengar oleh rakyat, maka mulailah kegelisahan hadir dalam bangsa ini,
kegelisahan yang sebenarnya sulit untuk diungkapkan, da yang gelisah akan jatuh
miskin, ada yang gelisah karena takut ini, itu, pokonya kegelisahan seakan
akan-akan bangsa ini akan hancur karena kenaikan BBM. Tuhan sudah tidah hadir
lagi disaat ini terejadi, seakan akan-kana mereka tidak punya tuhan, tidak
punya keyakinana kalau yang menentukan nasib bangsa ini bukanlah BBM, tuhan
sudah mati disaat itu juga.
Disaat aku ikut turun
kejalan dan berteriak dengan lantang seakan-akan teriakanku adalah perwakilan
dari suara rakyat yang kecil yang nasibnya tergantung pada BBM, tetapi apa yang
ku lakaukan itu tidaklah berarti apapun, bahkan disaat yang lain berteriak
dengan lantang, sebagia lagi malah berfoto dan bercanda gurau, aku sadar kenapa
hal suaru ini terdengar hambar, karena hanya sedikit orang yang tau dan
merasakan akan pentingnya suara ini.
Entah apa dan kenapa ini
terjadi, hanya perasaan gelisah yang masih ada di hati. Permainan apa yang
sebenarnya sedang direncanakan oleh para penguasa yang duduk di sofa mewah yang
dibeli dari keringat orang-orang susah. Mereka memang lebih tidak punya rasa
malu dari pada orang-orang yang turun kejalan, mereka para wakil rakyat yang
semestinya mendahulukan kepentingan rakyat malah bersenag-senang menikmati uang
rakyatnya demi perut meraka, demi kepuasaan sesaat mereka, sampai mereka rela
mengorbankan rakyatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar