STRUKTUR

Sabtu, 21 April 2012

BBM TUHAN BARU DI NEGARAKU


Tak aneh memang bila ku katakana kalau BBM adalah tuhan baru di negaraku, karena hanya sekedar minyak saja rakyatku bangsaku menangis, menjerit, dan mati. Entah kenapa hal ini bisa terjadi, padahal yang aku tau dahulu kala bangsaku makan, minum, bahkan bepergian kelain tempat seberapa jauhpun mereka tidak terhalangi oleh yang namanya minyak, mereka tetap hidup dan tetap merasakan indahnya dunia ini, apakah benar Negara ini sudah menjadi suatu perusaan yang bila mana penjualan barang yang di produksi oleh perusahaan itu meningkat maka perusahaan itu menaikan harga barang tersebut, kalau begitu ngapain kita sebut Indonesia ini sebuah Negara, kenapa kita tidak ganti saja namanya menjadi perusahaan Indonesia, wajar dong kalau dibilang perusahaan, toh hanya perusahaan lah yang mengenal kata devisit  dan surflus.
Kenaikan harga BBM memang bukan pertama kalinya di negaraku, bahkan di masa pemerintahan SBY ini sudah hamper tiga kali menaikan harga BBM, dan disaat isu kenaikan harga BBM ini sudah terdengar oleh rakyat, maka mulailah kegelisahan hadir dalam bangsa ini, kegelisahan yang sebenarnya sulit untuk diungkapkan, da yang gelisah akan jatuh miskin, ada yang gelisah karena takut ini, itu, pokonya kegelisahan seakan akan-akan bangsa ini akan hancur karena kenaikan BBM. Tuhan sudah tidah hadir lagi disaat ini terejadi, seakan akan-kana mereka tidak punya tuhan, tidak punya keyakinana kalau yang menentukan nasib bangsa ini bukanlah BBM, tuhan sudah mati disaat itu juga.
Disaat aku ikut turun kejalan dan berteriak dengan lantang seakan-akan teriakanku adalah perwakilan dari suara rakyat yang kecil yang nasibnya tergantung pada BBM, tetapi apa yang ku lakaukan itu tidaklah berarti apapun, bahkan disaat yang lain berteriak dengan lantang, sebagia lagi malah berfoto dan bercanda gurau, aku sadar kenapa hal suaru ini terdengar hambar, karena hanya sedikit orang yang tau dan merasakan akan pentingnya suara ini.
Entah apa dan kenapa ini terjadi, hanya perasaan gelisah yang masih ada di hati. Permainan apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh para penguasa yang duduk di sofa mewah yang dibeli dari keringat orang-orang susah. Mereka memang lebih tidak punya rasa malu dari pada orang-orang yang turun kejalan, mereka para wakil rakyat yang semestinya mendahulukan kepentingan rakyat malah bersenag-senang menikmati uang rakyatnya demi perut meraka, demi kepuasaan sesaat mereka, sampai mereka rela mengorbankan rakyatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar